Tampilkan postingan dengan label Puisi Erry Amanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Erry Amanda. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 September 2010

Adinda - Puisi cinta

A D I N D A

merajuk hati selimut daun semanggi pagi hari
hujan basah tak jadi aku berangkat hari ini
lihatlah binar mataku
di sana kau bisa hitung detak jantungku memburu
begitu indah samsara tanpa bicara

dik, hari ini tak bermain katakata
sebab bibirku telah lama tak bergincu
kupukupu dan kumbang tak lagi berseteru
beledru awan menyiapkan hujan petang nanti
sebentar saja aku menanti
agar kau tak iri hati

dik, rekahkan bibirmu lalu sungging di pelaminanmu sendiri
pada tilam di mana engkau sarungkan rindu
agar malammu tak lagi cemburu
sebab aku tak sedang menghitung waktu

dik, jangan bicara asmara
sebab di tanganku penuh aksara
samasama kita baca
tidakkah hanya itu yang kita punya

tangerang 03092010
oleh: Erry Amanda

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Adinda - Puisi cinta

Jika Ini Ramadhan Terakhirku

JIKA KU TAHU INI RAMADHAN TERAKHIRKU
(terinspirasi oleh: Wahid Noegroho)

jika ku tahu ini ramadhan terakhirku

aku tidak akan merasa langit menjadi kelam
bulan, bintang, biru langit berubah jadi kuburan kenang
lantas aku letakkan sepotong hati dibalai-balai
di atas nampan rupawan agar setiap petandang duka meradang
oh tidak tuan
aku tak hidup dalam bayang keindahan yang tak hendak dituntaskan
sebab mulut dan jiwaku tak pernah berseteru
lisan menguntai merjan cakapan
menderu-deru muara qolbu

jika ku tahu ini ramadhan terakhirku

haruskah menggelar lautan sajadah samudra do’a penghantar
berjuta lintasan cahaya silangan rasa dan perjalanan yang hendak dikuduskan
langit bermandikan wewangian bunga-bunga dunia
membagikan sedekah barokah sambil keliling negeri tanpa alas kaki
menyeret sorban pakaian tanpa jahitan
menapaki maqom-maqom berurai air mata sesal
memotret diri di atas lembar stiker tawadu’
ijinkan aku menggeleng

jika ku tahu ini ramadhan terakhirku

aku tetap seperti saat aku tak tahu kapan matiku
aku akan biasa-biasa saja
melakukan apa yang seharusnya aku lakukan
tidak akan memaksakan yang tak aku mampu
sebab catatan tak akan hilang hanya karena pameran
lukisan pura-pura seharian
sambil propaganda kesholehan

tanpa aku harus tahu ujung akhir jalanku
aku tetap memperindah jalan kesadaranku
agar berserahku adalah ikhlasku
tak berdebu nafsu


Tangerang 31Agustus2010
oleh: Erry Amanda

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Jika Ini Ramadhan Terakhirku

Jika Waktuku Tiba - Puisi cinta

JIKA WAKTUKU TIBA

jika waktuku tiba
hantar aku dengan suka cita
atas kelahiran baru menjemput janji nir fana
jika pun airmata menggenang
ia adalah suka cita
tanpa taburan bunga
pada bayi di atas belanga tuntasan
perjalanan demi perjalanan

jika waktuku tiba
masih saja halaman rumah teras kamar adab dan keberadabanku
lusuh berdebu
sapulah yang ikut menempel di rahim silaturahim
bersihkan noda bias dari kejalangan tingkah manusiaku
semaikan sedikit tanaman yang mungkin tertinggalkan
sebab itu bukan milikku
kecuali milik mukiman

jika waktuku tiba
bukankah amalan telah dituntaskan
pada teguhan kesebentaran bincangan kebersamaan
maka tuntaskan semua bilangan
jangan dipertentangkan
sebab potret di dinding adalahkenangan
bukan hiasan

Tangerang 2 sept 2010
oleh: Erry Amanda

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Jika Waktuku Tiba - Puisi cinta

Kabut Terang Tanah - Puisi cinta

KABUT TERANG TANAH
kepada pemeluk teguh

malam meninggalkan jejak suarasuara surau, langgar, sudutsudut hening
alam yang menyaring tepian rasa ikatan jiwa
melarung segala pertikaian peradaban purbani
manusiawi

gema terompah perjalanan membangun samudera airmata
menggenang di seluruh tanah cengkar lembah mukiman
tak sekadar kesementaraan
lembah pergumulan

fajar melingkup ketetapan jarak antara pembeda
kabutkabut dini hari membangkitkan sukacita
berarak tanpa pilahan mikiman
antara kesadaran atau penafian rahmatan
atau gugusan pengingkaran
anakanak jaman yang terseret di lobang tanah perdikan
langkah bergegas menganyam harap jejakjejak moyang

rekah aurora pelangi nirkala
masih tertangkap bening cahaya bagaskara
di sana aku letakkan segala cuaca
agar aku tak sangsi karena aku masih bisa bercinta
memainkan bianglala
seperti bocah kecil polos tanpa hiba
berjalan di titian yang selalu terasa tak cukup bekal
dan aku merasa telah tercukupkan

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Kabut Terang Tanah - Puisi cinta