Tampilkan postingan dengan label Puisi Fahrur Rozi Atma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Fahrur Rozi Atma. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Oktober 2010

Puisi Pilu

Pilu

Kawan !
Telah luluh lantak badan
tak lagi terlunta-lunta seperti lalu
hebat puncaknya menggila sedu-sedan
meratap siang malam sampai rasan

Inilah tanggungan hati
dulu jauh menanggung rindu
sekarang dekat mengandung pilu
sehingga insaf badan, meracau tiada henti



Adzab apa ini,
sehingga harus berhujan berkepanjangan
tiada di rasa lagi musim silih berganti
malah semakin payah menahan perasaian

seperti kali ini aku bercerita

ramai di sunyi
kononlah kok lengang !

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Pilu

Puisi Gerimis

Gerimis

"Sudah dua malam bertandang,
ke hati bimbang, bagaimanalah nak sayang,
jika selalu sakit di bawa pulang. "

Tepat pukul sembilan
langit kembali gerimis
cipta sayatan demi sayatan
di jantung ini mengiris

bukan soal duka
apalagi luka nganga
sudah dua waktu aku gagal
melukis utuh wajahmu di langit terjal

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Gerimis

Sajak-Sajak yang Tersangkut di Nebula

sejak sajak tersangkut di nebula
: Olan Sanseviera

Apalah pangkal dari gagal hati, untuk mengeja bait demi bait yang di bisikkan oleh muasal alam sebelum cahaya bernama kheos, patah semakin berderak retak lidah ini seperti di cambuk oleh lintar zeus yang sempat hilang beberapa bayang silam, dan itulah ragu serupa arphodite yang mengigil di undakan altar kehilangan sayap untuk mengepak cinta, terbang ke sebalik cosmos, tempat panah-panah amor tersesat dalam rengkuhan nebula. Ah, inilah pangkal gagal untuk mengeja, bagaimana bisa membaca sedangkan busurnya tak bertemu anak panah, sajakku tersangkut di nebula !

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Sajak-Sajak yang Tersangkut di Nebula

Puisi Memoar

Memoar
Nu...
Sepagi ini kau menggigil, lengan mendekap dada, harap ada pemantik api yang tiba-tiba berpijar dari sela-sela jemari, bukan lamunan kosong bila matanya mulai menjenuh dalam angan-angan, berbalik sambil menutupkan kembali jendela, sebelum hujan memanggil.
Api-api sebelum harap, telah di suluh jauh di waktu malam, lalu kenapa gigil telah mematikan ingatan, sehingga angan menjadi hiasan permulaan langkah.
Sebaiknya, mencari penyumpal mulut sebagai penganjal perut sedari kemarin petang tak di suapsuap, agar doa tak lari ingatan, seperti gigil membawamu lari ke dalam angan
Hei !

Ada pisau di ujung meja, terbersit akal untuk memenggal temali angan yang sudah berpilin jalin di otak.
tak jadi makan
pisau saja
saat pagi berbunga
akan musim seribu angan

Pisau saja !

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Memoar

Puisi Mengeja cinta

Mengeja cinta

sebalik malam aku menembang
nyanyian cinta di batas gerbang
walau berlapis hijab menghadang
gebu api semakin menyala terang

dengan jemari-jemari luka
aku petikan dawaidawai hiba
bersimpuh di atas permadani alam
tiada henti melafadz : Ya Qoyum


Ya Qoyum, Ya Qoyum, Ya Qoyum
bergumam bibir bergerak tiada henti
mematikan diri sebelum mati
sambil menyeruling pada Ilahi

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Mengeja cinta