Tampilkan postingan dengan label Puisi Giri Soeprijanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Giri Soeprijanto. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Oktober 2010

Puisi Selepas Isya

Selepas Isya’

Selepas Isya
Aku datang menghampirimu
Mengabarkan tentang keresahan
Tentang kelok jalan yang tak pernah usai

Selepas isya
Aku memanggilmu
Nama yang sempat terlupakan
Nama yang kuingat ketika aku terjatuh oleh dosa

Selepas isya, malam itu
Kupadamkan semua ego
Kuredam segala kesombongan
Kutundukkan wajahku
Dan kurasakan, kau elus rambutku
Tuhan...........

Bekasi, 2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Selepas Isya

Puisi Ingin Kubunuh Waktu

Ingin kubunuh waktu

Ingin kubunuh waktu
Ketika piringpiring, sendok
Dan gelasgelas dihadapan kita
Berjejer rapi diatas meja
Dan bibir tipismu kian lincah menari
Memainkan sendok dan garpu

Ingin kubunuh waktu sejenak
Ketika wajahmu memerah
Saat kutanya berapa ukuran kutang dan celana dalammu
Ketika itu
seperti tak ada tandatanda kehidupan ditempat ini
hanya empat mata
Mata kita

Ahhh.....
Sungguh, ingin kubunuh waktu

Bks, 2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Ingin Kubunuh Waktu

Puisi Biarkan Kuraba Dadamu

Biarkan kuraba dadamu

Kujulurkan tangan merayapi liku dadamu
berliuk dan terjal
seperti loronglorong jalan ditepi pekuburan
ketika kusentuh puting itu

tubuhmu menggelinjang
lalu kau tepis tanganku dengan pedang
kucari lagi dimana kau letakkan bagian terpeka itu
mungkin dibawah gunung

kujulurkan tanganku menyusuri tepian dadamu
hanya lenguhan yang kudengar
lalu kau menepisnya dengan parang
dimana lagi kau letakkan bagian terpeka itu
bagian tersulit darimu
aku ingin manyentuhnya
dan rasakan lembut tanganku

Bks, 2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Biarkan Kuraba Dadamu

Puisi Senja, Terminal dua Cengkareng

Senja, terminal dua cengkareng

Di terminal dua cengkareng
lelaki separuh nyawa
menangisi lambaian tangan, dan rusuknya yang menghilang
melayang bersama gemuruh angin, pun
seraut kenangan dirambut, bibir,
dan setiap jengkal kemaluan, yang ia
jejali malam itu

tapi senja, telah menjelma malam
hari pun terus bergulir, dan bulan, dan tahun,
seperti sengaja menunggu kematian
kuntum kembang pun telah melayu
menyisakan dentuman rindu, yang meluruh
menyumpal pepori dan urat nadi

janji dan sumpah dari bibir yang basah, masihkah
mampu memaknai resah, meleburkan semua gundah
ataukah pasrah, pada kisah cinta yang tak mudah

di senja yang temaram
di terminal dua cengkareng
di dua belas purnama yang terjanjikan
lelaki separuh nyawa, kembali
menyaksikan hujan
hujan di sepasang kelopak mata
bersama kenangan di terminal dua

jkt, 2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Senja, Terminal dua Cengkareng