Tampilkan postingan dengan label Puisi Husen Arifin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Husen Arifin. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 November 2010

Puisi Celurit Yang Asin

Puisi - Celurit Yang Asin

mata perempuan itu melukaiku dengan karang dan jala melintang menggenapi seluruh radang yang kudapat dari lorong lorong ketika pulang lalu perempuan itu datang ke pematang mengayuh angin mendekap lilin menyertai malamku yang dingin dan meletakkan sisa senjanya ke pundakku sambil mengurai cerita tentang ayah yang marah dan ibu yang rindu keduanya saling merebah dalam tidurku, katanya lalu, kau gores kulitku merupa rumah panjang untuk kau bawa pulang? tanyaku tidak, aku mau kau jadi bajuku, jawabnya sementara lilin berpilin perempuan itu telah membasuh tubuhku dengan celurit yang asin baunya semerbak sampai ke negara lain
Malang, 2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Celurit Yang Asin

Puisi Tentang Bak Mandi

Puisi - Tentang Bak Mandi

musim hujan, kugedor gedor pintu kamar mandi ingin aku mandi, sebab jarak sudah tegak dan tugas kuliah menggeledah otak seperti ingin selesai

kamar mandi tutup hari ini kran air macet, pegawai air mati kugedor gedor lagi mungkin akan datang perempuan pengganti

membasuhiku di kamar mandi menghapus dosa dosa tubuhku yang kian rapuh karena terlalu banyak debu lusuh di punggung, di dada, di kepala

di mata, di telinga, di kakiku menjalar ular ular mengakar aku terlilit ular perempuan aku tak mampu melawan, ular berbisa perempuan selalu berbisa

kemudian menyembul dari bak mandi punggungku, dadaku, kepalaku, mataku, telingaku, kakiku bergerak gerak ke arahku seolah aku bukan tuannya

ingin kugedor gedor tak henti kamar mandi melelapkanku melumat seisi mimpiku yang telah buyar karena kampus terbakar

sementara aku masih menyisakan sisa sisa mimpi yang berkelanjutan tentang bak mandi merupa perempuan penanam zaman merupa tubuhku di lain kehidupan

Malang, 2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Tentang Bak Mandi

Puisi Mahligai Malam

Puisi - Mahligai Malam

legam malam menghitam di antara kaki kakimu yang menyolek laki laki tambun dan menyuguh biru menandai langkah langkah keramaian menjadi opera keabadian

aku mendekap suaramu di pematang dulu ketika langit langit ditinggikan purnama sebagai ruang kita mencapai awal pertemuan, aku kini mengingatmu dengan ruang ruang yang kini menghilang ditelan gemerlapan mal, apartemen dan swalayan

seperti kaki kaki yang berat melangkah aku pun mulai gelisah sekejap ingin melepas lelah melumuri diri dengan tanah tanah menjadi seekor keong dan pergi meninggalkan segala resah

karena kau tak mau berubah dari jalang jalang kelam dari perempuan pemain malam sampai aku tak membaurimu di tengah tengah tawa laki laki yang membuka sedikit baju tipismu ah, mahligai malam terlalu sesak kutarjamahkan tentangmu yang baru saja ingin kupinang di pematang: impian kita sebagai kekasih, sayang

Malang, 2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Mahligai Malam

Minggu, 31 Oktober 2010

Puisi Kau Datang

Kau Datang, Tuan

kau datang, tuan sementara kau membiarkan aku di jalanan hanya seucap sinismu mengepul dari cerutumu itu

kau datang, tuan sambil memicingkan mata kau berikan aku sesuap nasi basi di hadapan padahal kau mampu memberiku dengan pecel kesukaan tuan

selepas adzan mungkin tuan melihatku dengan kesungguhan ya, di langit aku dikekalkan oleh tuhan. bukan tuan yang selalu mencampakkan

jangan kau bilang aku pernah lupa tuan tidak tuan, aku tak melupakan

sebab di surga aku melihat tuan sedang menggapai jalan menuju ke haribaan dan neraka tempat naungan tuan,

tuhan maha sayang tuan maha malang

Malang, 2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Kau Datang

Puisi Kandang Hatimu

Kandang Hatimu

kandang hatimu: harimau meletakkan kakiknya ke bangku, menjadi seseorang paling perkasa, membuka tabir tabir luka, gigi sebesar jemari merekah dan meruncing sekali. seperti celurit bermata. dan kau membisik padanya, merajuk pada tubuh angkuh, menyegerakan membabat belulang sedihku. rapuh, merapuh ke segala riuh. angin mengekal dan mengenggam pada perih, pada lirih, pada ringkih

yang kurasakan dalam gembala dan bermain dalam sirkus, di harimau yang berulang menjelma malam mengisyarat ingin melahap, mengungkap ingin merayap ke gemuruh dadaku yang tak siap

kadang hatimu: bagaimana kalau aku buat kandang baru? berisikan rembulan, kelinci bergigi puisi, dan gajah afrika hingga membuatku tak ingat pada harimau

yang terlukis di dadamu, mata harimau mata cintamu sebab itu aku cemburu.

Malang, 2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Kandang Hatimu