Tampilkan postingan dengan label Puisi I Putu Gede Pradipta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi I Putu Gede Pradipta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Oktober 2010

Puisi Tunggu Aku

Tunggu Aku

malam kosong
derap angin melonglong,
memecah dinding dengar
kamu berdiri di seberang malam
melipat lengan baju, memakai sepatu

tunggu aku!
sebentar saja tuntaskan mimpi
bertemu tuhan mengatakan:
aku akan berpamit pulang

2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Tunggu Aku

Puisi Saat Sepi

Saat Sepi

hari yang sepi
malam yang sepi
udara dingin menyelimuti
kau datang mengkidungkan puisi
aku mabuk
dibawa serta masuk mimpi

2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Saat Sepi

Puisi Rambut

Rambut

apa dirimu,
yang selalu ada di rambutku
sebab rambutku terus menambah panjang
entah siapa dijerat berikutnya
lelaki atau perempuan
mungkin juga tuhan

2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Rambut

Puisi Jauh

Jauh

aku terlampau jauh mencarimu
tenggelam di palung laut terdalam
melayang di langit terbiru
kutemukan kau meleleh di sudut mata
mencairkan kenangan

2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Jauh

Puisi Larut

Larut

Malam ini kau datang padaku saat udara masih basah dilanda gelisah. Aku tau apa yang menjadi maumu kali ini. Bisa kupastikan dari sorot matamu yang makin berkerut di kuras usia.

Apa telah kau siapkan sepenggal puisi buatku malam ini seperti jumpa kita pada malam-malam sebelumnya. Jawab ya, bila kau ingin jumpa ini tak percuma menyita waktu kita. Jawab ya, bila kau tak akan menemuiku selarut ini hanya untuk menterjemahkan pikiranmu yang selalu sekacau udara yang mengantarmu tepat waktu setiap malam menuju kediamanku ini.

Kau selalu saja menjawab dengan diam dan sedikit senyuman yang masih tersisa di wajahmu. Aku hafal jawaban itu, tak spesial dan tak berarti sesuatu apapun selain kau tak ingin aku bertanya lebih panjangkan?

Malam telah larut, begitu dingin dan beku. Mari kita teguk secangkir teh hitam sambil mengurai tubuh puisi yang kau bawakan, sebelum kita lagi-lagi membunuhnya usai jumpa. Kau pun terawa, terbahak. Gila bukan. Aku menyukai kegilaan kita yang satu ini.

Denpasar, 2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Larut