Tampilkan postingan dengan label Puisi Imelda Hasibuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Imelda Hasibuan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Desember 2010

Sajak Korban PHK

Sajak Korban PHK

matahari muncul di langit timur
engkau termangu belum juga tidur
semalaman menjalin kegundahan
semalaman merangkai kegusaran

oh, anak-anak menagih uang sekolah
oh, utang di warung makin bertambah
tagihan listrik belum terbayar
teman dan kerabat tak ada kabar

matahari menerangi semesta
benakmu tak jua usai berkelana
kepedihan mana yang lebih maha
dibandingkan seorang yang putus asa

oh, anak-anak kini kecewa
kau bukan ayah yang mereka bangga
oh, istrimu yang dulu begitu memuja
semakin kerap membuatmu terhina

matahari jatuh ke langit barat
beban di jiwa semakin berat
tubuhmu kini bagai sekarat
hasrat pun merapuh karena berkarat

Sawangan, Agustus 2010
Keterangan: PHK singkatan Pemutusan Hubungan Kerja

Puisi cinta dan Gaya hidup

Baca Selengkapnya - Sajak Korban PHK

Ingin Ketemu

Ingin Ketemu


kapan kau terbang rendah lagi,elang?
di sini
di ladang tak bermentari
gemerisik hati
cuma sepi

sekejap dan tiba-tiba
kau pernah singgah
entah hasrat entah rasa
menggiringmu menjejak
tapi bara kadung menebar
merebak
berubah bunga
memekar
tak putus musimnya

kusadar kepakmu tinggi
sedang suaraku gemetar mencecah langit
tapi angin setia semilirkan janji
kuelus sayapmu kapan meletih

dan kembali berpanen kita
memetik bara yang berserakan
seluas-luas raga
selepas-lepas bahagia

melayang
meski tanpa sayap
melesat
meski dalam gelap


ah, elang
selembar bulu sayapmu tertinggal di sini
semakin menggelitik ingin ketemu lagi



Depok,Mei 2010

-----

Puisi cinta dan Gaya hidup

Baca Selengkapnya - Ingin Ketemu

Anak yang Tersisih

Anak yang Tersisih

langit cerah dan burung bernyanyi
tak mampu melipur hatimu yang sedih
hanya mendekap beruang teddy
kau tahu tak akan ada teman menemani

kemarin teman-teman menghina namamu, hari ini juga
kemarin dulu malah menghardikmu, esok begitu pula

di sini di negeri yang kakekmu turut membebaskannya
di sini di bawah langit yang menaungi makhluk beraneka
entah mengapa perlakuan padamu selalu berbeda
entah mengapa keyakinan malah membuatmu tak setara

kemarin teman-teman mencela warnamu, hari ini juga
kemarin dulu malah menggertakmu, lusa demikian pula

di sini di negeri yang dianugerahkan Sang Cinta
di sini di bawah langit yang mengatapi seluruh manusia
entah mengapa kepatuhan padaNya justru membuat buta
entah mengapa selalu harus ada kami dan mereka

langit cerah dan burung bernyanyi
tak bisa menghibur jiwamu yang pedih
semakin memeluk beruang teddy
kau tahu tak akan ada teman mengerti

Sawangan, Agustus 2010

-----

Puisi cinta dan Gaya hidup

Baca Selengkapnya - Anak yang Tersisih

Puisi Adalah Kopi

Puisi Adalah Kopi

bagai secangkir kopi
demikianlah seuntai puisi
serupa meracik kopi
begitulah melahirkan puisi

tak mungkin kopi sesuai angan
jika takaran kurang atau berlebihan
tak mungkin pas kekentalan
jika air tuangan belum dididihkan

tak mungkin puisi mengantar kebaikan
bila hatimu tak menyelami kelam
tak mungkin puisi menyentuh perasaan
bila kalimatmu tak menguak kenyataan

tuanglah yang asli bubuk kopinya
aduklah merata tak dibubuh gula
rangkaikan kata seimbang rima
lenturkan alur segaris nada

:
tentu terasa pahit kopinya
tapi pastilah menyehatkan
mungkin puisi pedih yang tercipta
tapi menyampaikan peradaban

Sawangan, akhir Juli 2010
Catatan: Puisi ini diilhami obrolan melalui pesan pendek dengan Penyair Acep Zamzam Noor,
mengenai bagaimana meracik kopi.

Puisi cinta dan Gaya hidup

Baca Selengkapnya - Puisi Adalah Kopi