Tampilkan postingan dengan label Puisi Rudi Setiawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Rudi Setiawan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 September 2010

Puisi Perjalanan Kalbu

PERJALANAN KALBU

Kunikmati sedu sedanku
Larut dalam asyik masyuku
Air mataku mengalir sendu
Mengairi sungai rindu

Paras-Mu sungguh Indah
Kuintip dari balik gelisah
Saat resah kuserah
Pada sujud-sujud pasrah

Subkhana
Maha Suci Engkau
Dari segala cemar dan cela
Serta dari prasangka buruk manusia

Robbiyal-‘a’laa
Tuhanku Yang Maha Tinggi
aku hamba-Mu yang lemah dan hina
kusujudkan kepala dalam fana

Wabikhamdihi
Segala sanjung puji bagi-Nya
Tempat ku panjatkan segala do’a
kumohon ampunan atas semua dosa

Yaa Allah, Yaa Robbiy
Ini makhluk-Mu, datang mengetuk pintu-Mu
Dalam cemas, kalut dan rindu
Akankah Kau buka, Kau buka, Kau buka?

Yaa Allah, Yaa Robbiy
Ini hamba-Mu, menunggu di pelataran-Mu
Membisikan nama-Mu, nama-Mu, asma-Mu
Akankah Kau panggil, Kau panggil, Kau panggil?

Yaa Allah, Yaa Robbiy
Ini aku, yang mengaku kekasih-Mu
Hendak kutumpah rasa, rasa, cinta
Akankah Kau dekap, Kau dekap, Kau dekap?

Yaa Allah, Yaa Robbiy
Ini aku, bukan siapa-siapa
Masih disini
Menanti
Menanti
Mati

Doha, 8 Juli 2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Perjalanan Kalbu

Puisi Senandung Lara Puber Pertama

SENANDUNG LARA PUBER PERTAMA

Apakah kau lupa
Puisi tentang kita yang kutulis di tembok pagar belakang sekolah
Karenanya aku dihukum jemur oleh wali kelas kita Bu Sumirah

Apakah kau lupa
Coret moret grafite wajahmu yang kulukis di tanggul kali Brantas
Setiap berangkat dan sepulang sekolah selalu kita saksikan saat melintas

Apakah kau lupa
Pada sepeda tuaku bermerk Holden kau kuboncengkan
Sambil berdiskusi tentang pelajaran yang telah diajarkan

Apakah kau lupa
Jalanan yang kita lalui telah merekam semua peristiwa
Kisah cinta monyet antara sepasang anak remaja

Apakah kau lupa
Setiap pertandingan olah raga bola basket antar kelas
Kau setia mendukungku sambil kau bawakan minuman dalam gelas

Apakah kau lupa
Pada akhir semester kau hampir selalu berada di rangking kedua
Dan aku selalu mengalah hanya berada di rangking ketiga

Apakah kau lupa
Saat perpisahan sekolah kita berjanji untuk saling setia
Meskipun aku harus melanjutkan sekolah keluar kota

Apakah kau lupa
Karena jarak yang terbentang itulah perjumpaan kita menyusut
Dan ruang yang memisahkan itulah membuat cinta kita menyurut

Apakah kau lupa
Disaat aku asyik mengejar mimpiku dan kau kusyuk memburu cita-citamu
Disaat itulah semua gelora rindu seolah-olah lenyap dan semu

Apakah kau lupa
Pada akhirnya waktulah yang menjadi saksi bisu
Bahwa cinta kita berdua tak bisa menjadi satu

Adakah kau tahu
Sesungguhnya jauh dilubuk hatiku masih terukir cinta untukmu

Doha, 15 Juli 2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Senandung Lara Puber Pertama

Puisi Mari Berpeta Pada Malam Al-Qadr

MARI BERPESTA PADA MALAM AL-QADR

Ketika malam telah membutakan siang, dan rembulan yang sedang kurus kering itu asyik bersembunyi dipelukan awan hitam.

Adakah yang lebih indah selain daripada kegelapan malam ?.

Waktu dimana para musafir berpesta pora dalam bergelas-gelas anggur pemujaan, mabuk dalam dekapan cinta, ekstase menuju hamparan indah dalam taman rumah kekasihnya.

Adakah yang lebih dahsyat selain daripada kesenyapan malam ?.

Saat manakala para pencinta sedang memadu kasih dengan yang dicinta, ranjang-ranjang pengantin bertaburan bunga aneka warna, harumnya semerbak menembus petala langit tujuh.

Adakah yang lebih menggairahkan selain daripada bujuk rayu malam ?.

Ketika semua pintu langit tersibak, dan para Malaikat turun kebumi berkhalwat bersama para kekasih Majikannya, do'a-do'a dan sanjung puji beterbangan menuju puncak langit menanti jawaban dari Sang Penguasanya.

Duhai jiwa yang disilaukan siang, ketika malam menjelang engkau asyik telanjang mengobral birahi-birahi liar.

Duhai jiwa yang enggan berlabuh dalam gelap, saat kegelapan menimpa engkau membakarnya dengan api amarah yang engkau sulut dari minyak-minyak kedengkian dan keserakahan.

Duhai jiwa yang membenci sunyi, engkau telah memenggal kepala kesunyian dengan nyanyian-nyanyian sumbang dalam iringan musik-musik jalang.

Ini malam Ramadhan, ini malam Al-Qadr,

Majikanmu menawarimu perniagaan yang berlimpah ruah keuntungan, bahkan cukup untuk menghidupimu dalam seribu bulan kedepan.

Ini malam Ramadhan, ini malam Al-Qadr,

Rajamu mengimingimu gelar kepangkatan yang mentereng, yaitu At-Taqwa gelar tertinggi dari semua hamba sahaya, bila engkau memilikinya para Malaikatpun akan menjadi pelayanmu.

Ini malam Ramadhan, ini malam Al-Qadr,
Pemilikmu memintamu untuk meminta kepadanya apa saja yang engkau inginkan, engkau minta satu diberimu dua, engkau minta dua diberimu empat, engkau minta sepuluh diberimu seribu, lalu kenapa engkau tidak segera meminta.

Ini malam Ramadhan, ini malam Al- Qadr,

Yang Maha Indah semakin memukau Ke-Indahan-Nya.

Ini malam Ramadhan, ini malam Al-Qadr,

Yang Maha Jelita semakin mempesona Ke-Cantikan-Nya.

Ini malam Ramadhan, ini malam Al-Qadr,

Yang Maha Lembut semakin hangat dekapan Ke-Lembutan-Nya.

Cepat buang rasa kantukmu, obati dengan airmata pertaubatan.

Tahan dulu hasrat birahimu, tumpahkan dalam bait-bait dzikir nan syahdu.

Buang sementara ranjang duniamu, hamparkan sajadah sujudkan keangkuhan kepalamu.

Ini malam Ramadhan, ini malam Al-Qadr,

Tuhanmu Yang Maha Kasih, mengundangmu menuju panggung pesta pora Cinta, menarilah dalam tarian kekhusyukan jiwa, bernyanyilah dengan puja-puji yang indah, berpestalah dan terus berpesta hingga pagi datang menjelma.

Kertosono, 31 Agustus 2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Mari Berpeta Pada Malam Al-Qadr

Puisi Kepada Sang Khaliq

KEPADA SANG KHALIQ

Yaa Allah,
Dengan nikmat-Mu yang Engkau anugerahkan padaku sekarang ini
aku tak mampu mensyukurinya
Apalagi jika Engkau tambah dengan nikmat-Mu yang lain yang lebih banyak
tentu aku semakin tak kuasa mensyukurinya

Yaa Allah,
Dengan sedikit musibah yang Engkau hadirkan padaku
itu telah membuatku kehilangan kesabaranku
Apalagi jika Engkau hadirkan musibah yang lebih besar
tentu aku tak sanggup untuk menanggungnya

Yaa Allah,
aku memang bukan termasuk golongan abdan syakuura
dan bukan pulatermasuk golongan ash-shobiriin
namun aku tetap merupakan hamba-Mu juga
yang telah Engkau ciptakan dengan ke Maha Pemurahan-Mu

Yaa Allah,
Jika akibat kekufuranku terhadap nikmat-Mu
serta karena keputus-asaanku terhadap musibah dari-Mu
akan menyeretku menuju liang neraka-Mu
itu adalah jauh lebih baik daripada tidak Engkau ciptakan aku sama sekali

Yaa Allah,
aku tak pernah minta untuk Engkau cipta (apalagi meminta untuk menjadi manusia)
tetapi dengan Rahman Rahim-Mu Engkau ciptakan aku
serta Engkau anugerahi aku dengan beragam nikmat dan karunia yang tak terhingga
meski Engkau tahu betapa lemah imanku

Yaa Allah,
Jika Engkau berkenan maka cabut saja nyawaku dengan segera
agar tidak berlanjut kekufuranku kepada-Mu
dan biar berkurang beban bumi akibat dosa-dosaku

Kertosono, 15 Agustus 2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Kepada Sang Khaliq

Puisi Etalase Senja

ETALASE SENJA

Senja,
Ketika kau tiba di kaki lembahmu yang ranum
Semilir angin berhembus lembut manja menyapamu
Padi dan rerumputan berbisik-bisik, memuji keindahanmu

Senja,
Ketika kau sampai ditepi pantaimu nan damai
Riuh rendah gemuruh ombak riang mencumbumu
Burung-burung camar melayang sembari bernyanyi merdu tuk menghiburmu

Senja,
Ketika kau tiba dihamparan gurunmu yang gersang
Pasir-pasir putih beterbangan berebut mengelusmu
Matahari yang kemuning, gunung-gunung duduk terdiam dan hening
Seakan terpesona menyaksikan paras elokmu

Senja,
Ketika kau sampai di belantara kotamu nan hingar
Manusia-manusia dengan keringat ditubuh tersenyum senang menyambutmu
Ramai klakson dan deru mesin dari motor dan mobil yang berbaris di jalan-jalan
Seolah berpesta pora memeriahkan kehadiranmu

Senja,
Ketika kau tiba di pelataran rumah mungilku
Maka biarkan aku menikmati wajahmu
Sembari kudendangkan syair-syair kasmaran
Hingga saat malam temaram datang menjelang

Kertosono, 17 Agustus 2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Etalase Senja