Tampilkan postingan dengan label Puisi Yusran Arifin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Yusran Arifin. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 September 2010

Puisi Menjadi Petani

MENJADI PETANI
: NYALA IMANA

dari tebing kecemasanku yang curam, aku menggigil
menahan rindu serta ragu. tapi masih kukenang
sawah yang bugil dan coklat itu adalah tubuh perempuan
di rahimnya yang basah telah kupesan bulan madu terpanjang
yang kelak akan mengandung dan melahirkan anak-anak kehidupan
selalu akan tumbuh padi-padi yang indah dari fikiran-fikiran yang diruncingkan
sedang tarian air selalu mengalir dengan sendirinya
dari lembah ketulusan yang disunting kesabaran

dari puncak terjauh sungai waktu begitu risau mengalun
menyeret kesendirianku meloncati pematang demi pematang
dan aku telah berulang kali menghamilimu sepanjang musim
dengan bajak yang terkokang dalam sajak
dengan kata-kata yang mengepul dan menjelma sebotol arak
akupun mabuk dan extase berulang kali
tapi masih harus kusempurnakan setubuh ini
meski aku tak hentinya melumpuri jiwa dengan cinta

sawah sejati adalah usiamu sendiri
terbujur antara kaki ibu hingga kaki kuburmu
di mana di dalamnya terhampar tanah subur
yang harus kaubajak dengan fikiran-fikiran terbijak
keinginan adalah benih termurni yang kau tanam sesungguh hati
yang kelak akan kaupanaen sebagai pahala abadi
jika ketulusan menjadi satu-satunya pupuk
yang membasuh segala gerak sera doa-doa yang kaureguk

menjadi petani adalah kesepakatan dan pilihan
bukan kutukan atau hukuman atas perselingkuhan adam
yang diwariskan

Tasikmalaya, 2009

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Menjadi Petani

Puisi Menenun Kain Kafan

MENENUN KAIN KAFAN

adalah gulungan waktu yang menderu mencari jejakmu
kemudian lembar sepi yang terkubur di luar kamarmu
tanpa cinta masih kutenun gaun pengantinku
antara impian dan ranjang bulan madu
tapi perkawinan selalu gagal kutemukan
bahkan ciumanmu kini lenyap dari urat leherku

jalanan kian sunyi dan mendaki
benang hakikatku berkilauan menyulam cahaya
matahari menuntun mabukku melebur warna baju
kini aku helai makrifat yang berkibar di udara
begitu dekatnya engkau ternyata
kulukis di kain kafanku

2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Menenun Kain Kafan

Puisi Sebuah Sungai

SEBUAH SUNGAI

laju air sepertinya sangat patuh pada sungai
tapi hulupun dengan senang hati begitu merestui
bahkan muara begitu tak sabar menunggu
dengan debaran penuh rindu

air terus berlari meloncati batu juga akar akar bambu
keliaranmu makin kufahami sebagai suluh pematanganku
sambil bergerak ke arah tepi kujernihkan fikiran fikiran
kuhancurkan setiap buih yang menyumbat tenggorokanku

melewati sunyi bebukitan
nyanyianmu kian memabukkanku
iramanya bagai ribuan jarum alit yang menancap di tubuhku
semakin mendekat ke muara gerak lajumu kian membabi buta

sedang hujan yang kautampung di matamu
menjadi beban baru bagi penyelamanku
sebuah sungai baru menggali terowongan di tebing tebing hatiku
mengalirkan kata kata jernih ke dalam sajak sajaku

2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Sebuah Sungai

Puisi Kafe Itu Bernama Dunia

KAFE ITU BERNAMA DUNIA

mataku pecah saat ujung lidahmu yang liar
mengucurkan arak
kautanggalkan pakaian lalu kaurebahkan dadamu
di antara sendok dan garpu
kau tarik leherku ke ujung pisau dengan senyum paling risau
tapi lampu lampu itu menyeret lenganku ke balik sehelai pintu
lalu mengajarku memilih hidangan yang disajikan

ribuan botol waktu kautumpahkan ke tepi meja
membasahi perbincangan memecah gelas-gelas impian
di meja yang lain orang orang bersulang
dengan gelas penuh bara
kemudian melucuti seluruh isi kepala
dan melontarnya ke nganga jendela
aku terjaga saat musik menghentikan iramanya dengan terpaksa
lalu melontarku ke mulut kesepian paling purba

2010
Baca Selengkapnya - Puisi Kafe Itu Bernama Dunia

Puisi Di Pantai Ini Aku Mendekapmu

DI PANTAI INI AKU MENDEKAPMU

Pasir yang basah menyentuh ujung hatiku
Kudekap dengan kata kata yang belum sempat kukenal
Sepanjang pantai aku mengerang menahan rindu yang bertahun
Sedang tangisanmu selalu menahan kepergianku
Dari langit yang jauh segerombolan burung hitam terbang merendah
Tapi lesatan matahari memerasnya menjadi hamburan debu
Langkahku mendekati semedi karang
Kuhikmati setiap gelombang yang pergi dan berpulang


Langit yang biru selalu meneteskan harapan baru
Bagi siapapun yang memelihara keteguhan karang
Setiap ombak selalu menjengkal jarak
Sekaligus ruang pekat untuk digeluti dan ditafsirkan pemabuk
Tapi tak mudah untuk menjinakanmu
Bertahun aku memeram kail dan melempar umpan
Di atas tongkang yang selalu kulayarkan ke lautan
Sebab penyair adalah petapa sekaligus pemburu kata kata

2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Di Pantai Ini Aku Mendekapmu