Tampilkan postingan dengan label Sajak Acep Syahril. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak Acep Syahril. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Oktober 2010

Puisi Mirip Koruptor

mirip koruptor

di rumahku banyak hewan yang numpang
tinggal tapi aku tak pernah repot
menghidangkan makan untuk
mereka dari mulai kepinding semut rayap
kecoa ulat bulu tikus kelabang kelelawar
dan jentik-jentik

jadi wajar-wajar saja kalau diantara
mereka seringkali keluar masuk kamar
tidur atau kadang berjalan-jalan dikaki
saat kami tertidur lelap bahkan
menembus rosleting dan kadang sampai
menggigit pantat istriku tapi itu bukan
kurang ajar karena diantara
mereka hanya menghisap sedikit darah
kami yang adadi rumah tidak seperti
koruptor yang pandai menghisap
darah rakyat seluruh negeri ini

tapi ada dua hewan bandel yang menyerupai
koruptor yang kadang membuatku marah
sedih dan tertawa satu tikus dan keduanya
rayap mereka punya hati tapi tak punya jiwa
seperti kita bayangkan saja buku yang
kuanggap sebagai pesawat tempur mesin
dan kata-katanya dia rusak persediaan
makanan yang kami anggap sebagai peluru
dia kerat kencingi

dasar hewan bandel kalian ini mirip koruptor
atau koruptor yang mirip kalian

indramayu, 2009 - 2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Mirip Koruptor

Puisi Sore Itu

sore itu

sore itu setelah resmi menjadi suami di hadapan
penghulu mertua saudara tetangga dan famili
istriku dan yang lain nya menangis dengan seikat
puisi yang kujadikan mahar mereka menangis
lebih dari 10 menit awalnya kukira karena hebatnya
puisi yang kupersembahkan ternyata tidak
tangisan itu sebagai ekspresi kesedihan dan rasa malu
mereka karena dapat menantu petani kata

dalam hati aku bergumam betapa buruknya
laku penguasa dan pejabat negeri ini mereka
hanya mengajarkan kelancaran birokrasi proses
hukum dan hak mengakimi karena uang sementara
mereka tak mengajarkan perjuangan hidup rakyat
agar menjadi terang

sekarang aku harus mengajarkan istri dan
mertuaku tentang bagaimana liciknya penguasa
yang mengabadikan kebodohan pada rakyat
serta mengajarkan keyakinan kalau uang dan jabatan
bukanlah segalanya tapi keyakinan dan semangat hidup
itulah mahar yang akan membuka jalan ke depan
dan alat perlawanan terhadap kedzoliman

indramayu 1995 – 2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Sore Itu

Puisi Tiga Tahun Di Jakarta

tiga tahun di jakarta

misjan bende koprak solikin dan aku akhirnya
pulang ke desa lagi dengan cerita dan pengalaman baru
tiga tahun di jakarta kami cuma jadi kuli bangunan
tukang ojeg sepeda kenek tangki tinja dan tukang parkir
suruhan preman di jakarta kami tinggal di sebuah
kamar kontrakan 2 X 2 meter di kamar ini kami tidak
bisa bermimpi karena kamar ini hanya kami
manfaatkan untuk meluruskan badan setelah
seharian berjuang cari uang untuk makan
tidur kami hanya sepejam setelah itu mikir besok
mau nyedot tinja di rumah siapa mau nggoes sepeda
dalam jarak yang jauh ambeiennya belum sembuh
mau ngecat langit-langit kantor lehernya masih pegel
sementara di lokasi parkiran saat ini sering ribut
soalnya salah satu premannya baru bebas dari cipinang
begitulah fikiran kami setiap malam

dan kamar ini selain sebagai tempat ngelurusin
badan juga untuk berteduh dari hujan selain tempat
berlindung dari kejaran pol pp yang sering meraziah
gelandangan padahal kalau di desa kami sering
bermimpi apa saja kadang mimpi jadi lurah punya
jatah tanah garapan milik desa mimpi jadi tukang
tempur gabah mimpi jadi sponsor tki dengan
persenan bisa buat nraktir pacar tapi yang tidak enak
ketika kami bermimpi disuruh gali lubang
untuk ngubur tetangga yang meninggal hidup
rasanya seperti singkat sekali

tiga tahun di jakarta kami cuma dapat banyak cerita
sementara di desa semak bapak dan adik-adik harap
harap bisa buat nyewa sawah
sungguh kami jadi malu hati karena kalah dengan
koruptor yang kerjanya cuma duduk muter-muter
di kursi besoknya uang masuk rekening pribadi
teriak-teriak dan debat di gedung dprd dengan
segala argumentasi di rapat paripurna besoknya uang
ngalir masuk ke rekening bersama atas nama
aliansi koruptor indonesia
ha...ha...ha...

jakarta, 2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Tiga Tahun Di Jakarta

Puisi Taleju

taleju *

reni kokom dewi maafkan aku
kali ini aku tak mampir ke markas kalian
aku tau dari suharyoto dan nofri ahmad
kalau komplek tempat kita pernah
bercengkrama dulu sudah dibongkar tapi aku
masih hapal bau tubuh kalian aku masih
ingat minyak wangi produk pak jenggot yang
kalian kenakan yang dijual keliling tek sami
baunya ow ow aku sungguh sangat suka karena
itulah simbol kehidupan kita tapi aku tak tau dimana
kalian sekarang apakah masih seperti dulu dan
apakah si leman pengkang yang sering datang larut
malam dengan anggur cap macan itu masih sering
datang atau sudah mati terbakar jantungnya

semalam malam aku tak bisa tidur memikirkan
kalian meski selama kutau warna t-shirt dan jean
atau bh dan cd yang kalian kenakan tak sampai
kutanggalkan apalagi membenamkan sajakku
yang satu itu tapi itulah sahabat kita hanya
mempurukkan waktu dan malam bersama-sama
demi nasib dan perjalanan singkat ini
itulah yang membuatku tak bisa tidur

reni kokom dewi maafkan aku
malam ini aku mau baca puisi di belakang rumah
suharyoto dan aku akan bacakan juga catatan
tentang kita yang pernah tertawa bersama
di kamar reni mendengar cerita kokom yang
menipu langganannya dengan deheman yang
yahut lalu langganannya pun puas dan pulang
meninggalkan beberapa lembaran uang kertas

aku hanya berdoa semoga tuhan telah selesai
membuatkan jalan untuk kalian lalu berkawin
beranak dan menjalani hidup yang benar
biarlah cerita ini jadi saksi sejarah hidup semua
orang yang pernah singgah di dapurmu seperti
aku yang pernah singgah di kamar kalian dan
tidur semalaman bersama tinggi yang meminta
beberapa cc darah dari tubuhku yang kurus
waktu itu dan satu kutitip pesan pada kalian
jangan lagi kembali ke rumah yang disesatkan
yang bukan atas nama tuhan itu lalu ingat pada
catatan kalian dulu kalau semua ini bukan kehendak
kalian tapi kehendak penguasa yang hanya memikirkan
kesenangan ketengan anak istri dan perut kelompok
serta barisan mereka dengan memanipulasi mencuri
dan menggarong uang termasuk kesempatan kita

laboy jaya, bangkinang – riau 2010

* Taleju komplek lokalisasi di Riau, sekarang telah dibongkar

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Taleju

Puisi Kita Boleh

kita boleh

kali ini kita boleh hidup bersama hujan tikus
coro semut dan angge-angge yang keluar masuk
cari makan serta perlindungan bersama dingin
bau sampah atau kardus setengah basah yang
melembabkan punggung kita diantara
malam pinggir kali sisi rel kereta atau di belakang
bangunan megah yang tak kita ketahui siapa ketua
rt dan rw nya

boleh kita boleh hidup seperti ini kata
pak guru sembari belajar berhitung dan
mempertajam ingatan berapa nyamuk yang
sudah kita tepuk malam ini dan berapa kaleng
cocacola tutup botol air mineral dan gelang karet
yang kita kumpulkan dari setiap tong sampah
dengan membaca barisan kata dari peristiwa basi
di potongan-potongan koran yang dikilo serta
tentang nama-nama saudara senasib yang
dihakimi massa karena dituduh mencuri lalu baru
dihakimi polisi dan jaksa sebelum hakim
memponisnya jadi penghuni penjara

atau para koruptor maling bangsat pecundang
negara yang masuk rumah sakit karena pura-pura
jantungan depresi mag dan ambeien ketika
diverbal jaksa

boleh kita boleh hidup seperti ini sebelum tuhan
benar-benar berpihak pada kita dengan terus
belajar membaca berhitung mengkali membagi
mengurangi angka-angka yang tertera pada
daftar nasib di papan tulis raksasa ini dengan
terus belajar jadi rakyat hukum dan
hakim bagi orang lain dan diri sendiri
sebab selama ini kita hanya diajarkan
untuk jadi rakyat yang harus tunduk pada hukum
dengan bahasa licik penguasa bahasa telur
busuk penyelenggara hukum bahasa banci
para penegak hukum dan bahasa culas
petinggi negara yang mengatakan kalau kita
semua sama dimata hukum tapi sebenarnya
berbeda dimata hakim

oleh sebab itu kita harus belajar tau esensi
rakyat esensi hakim dan esensi hukum
boleh kita boleh hidup seperti ini
tapi tidak boleh menyerah dan lemah kita
harus kuat kaya berani dan melawan
segala bentuk pengusiran penggusuran rongrongan
dan penindasan

indramayu, 2010

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Puisi Kita Boleh