Kamis, 02 September 2010

Langkah Kedua Belas

-Langkah Kedua Belas

Surat-suratmu datang lebih dulu: puisi yang menenteramkan
Sebelum aku jauh tersesat, atau kemudian, menyesatkan diri
Bertahun-tahun menyembunyikan alamat, agar tak sampai
pemberitahuanmu itu. Kini dengan tak terhitung rasa malu
aku mengharap sebuah peta untuk menempuh jazirah cintamu

12 Ramadan 1431, 22 Agustus 2010
Kurnia Effendi

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Langkah Kedua Belas

Langkah Ketiga Belas

-Langkah Ketiga Belas

Sebuah pagi retak oleh risalah. Aku terlambat
menangkap cahaya, karena terlena oleh kesumat
Dari dua pembuluh kuterima desir darah. Menukar
isi jantung dengan sepasang degup samar

ada dua teguk yang paling agung bagi seorang hamba:
santun saat diterpa emosi, dan
sabar ketika menghadapi musibah *

ada kekuatan rentan di seberang waktu:
gulungan yang membuatmu tegak seperti ombak, atau
bersitahan dalam dentum runtun kesia-siaan **

Sebuah malam terluka oleh sepucuk alamat. Aku terbius
oleh rasa haus yang mengalirkan nira merah padam
Seolah pengelana terlunta, aku mencari ekor kemukus
Untuk pedoman langkah sebelum bulan tenggelam

ada setanggi dibakar diam-diam sebagai penanda:
arah angin yang membawa kabar cintamu
arah duka yang meretas akar kasihmu

ada kalam yang mesti kujinjing melintas jazirah:
untuk membaca bening atau keruh cuaca
bahkan sebagai hamba aku masih melukai hatimu

13 Ramadan 1431, 23 Agustus 2010
Kurnia Effendi


Catatan:
* Kukutip dari pesan pendek Diarty Sri, Sumedang
** Kutafsir dari ungkapan Happy Trengono

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Langkah Ketiga Belas

Langkah Keempat Belas

-Langkah Keempat Belas

Bulan serupa telur dadar
Cahayanya merakit doa
Iman tipis dan ingar-bingar
Niscaya sulit terluput goda

(Tersurat melalui almanak: bulan nyaris bundar serupa
telur dadar. Dari pendar cahayanya yang lembut, kita
merakit doa. Iman kian tipis dan sekadar, di tengah
ingar-bingar surga dunia. Berani bertaruh, niscaya sulit
berpaling dan menghindar, agar terluput seribu goda)

Pantai kecil di pulau gaduh
Kelapa santan tangkai pelepah
Nil mengantarmu pada musuh
Kelak terkubur Laut Merah

(Pantai kecil di hamparan pulau yang berisik dan gaduh.
Bebatang kelapa, buah santan di antara tangkai-tangkai
pelepah. Bercerita angin tentang Sungai Nil yang
mengantarmu kepada musuh. Untuk kelak tinggalkan
tuhan tiran di belahan Laut Merah)

Pasar kembang embuskan wangi
Merebus sirih tiga lembar
Tak lekang menyesali diri
Terhapus perih cinta memar

(Pasar kembang mengembuskan wangi, kenanga
dan melati. Sang perawi sibuk merebus sirih, tiga lembar
serupa cadar. Rasanya tak kunjung lekang aku
menyesali diri. Hingga terhapus perih luka
dari cinta yang memar)

14 Ramadan 1431, 24 Agustus 2010
Kurnia Effendi

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Langkah Keempat Belas

Langkah Keenam Belas

-Langkah Keenam Belas

Rakaat pertama:
Seperti menulis nama di atas pasir, gurun maupun pantai
Angin dan ombak lekas mengusir, ngungun dan sangsai

Rakaat kedua:
Berdiri tegak serupa pencakar langit, puncak ubun-ubunku
Ada yang sibuk bertarung sengit, di dasar lubuk hatiku

Rakaat ketiga:
Selengang Hira, kumasuki jiwaku yang gelap tanpa tingkap
Sipongang lira, memasuki jiwaku yang meratap tak terungkap

Rakaat keempat:
Jauh melangkah ke tengah jazirah, kudekati antah-berantah
Lepuh di bawah tudung baju zirah, aku seperti berangkat ziarah

Rakaat kelima:
Seingatku telah kulipat peta dalam saku, sebelum perjalanan
Namun setiap tiba pada cuaca dan suhu, kurasakan kehilangan

Rakaat keenam:
Kekasih, hampir kuselamatkan jiwaku yang remuk redam
Kedasih bersuit memberi alamat untuk akhir yang tenteram

Rakaat ketujuh:
Dalam senggang, aku merinci nafas seperti menerka batas
Beri aku tenggang, cintaku, begitu banyak yang belum tuntas

Rakaat kedelapan:
Kupastikan aku bukan Ibrahim yang teguh memerangi berhala
Yakinkanlah kepadaku untuk tetap melangkah kepadamu semata

Rakaat kesembilan:
Luh di mataku terperas di sajadah untuk mencuci kembali hati
Ruh di tubuhku kandas di ambang jazirah oleh kecut nyali

Rakaat kesepuluh:
Rinduku semakin hebat setiap usai bertemu, mendekati ngilu
Cintaku telah sampai pada batas sakit *, seperti getir candu

Rakaat kesebelas:
Pada penutup silaturahmi malam ini, jangan kaupadamkan cahaya
Sebelum mataku terkatup malam ini, jauhkan marabahaya

Amin

16 Ramadan 1431, 26 Agustus 2010
Kurnia Effendi

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Langkah Keenam Belas

Langkah Kelima Belas

-Langkah Kelima Belas

Manusia itu, aku, tentu selalu terlihat lucu olehmu, wahai mata bijak yang jauh lebih tajam dari bajak mungil pemahat intan, ketika jalan lurus menujumu justru kutempuh dengan memutar lalu menemu berbagai kabar aneh yang segera kupercayai, padahal merekalah para seterumu yang terang-terangan memusuhimu sejak dari taman firdausi dan dengan riang membentuk partai denganku, menempatkanku pada posisi yang seolah jauh dari ragu, sehingga terseretlah aku pada jarak yang terentang memanjang, sampai-sampai hatiku lamur tak sanggup lagi membayangkanmu berdiri menunggu di ambang pintu cahaya dengan pertanyaan yang masih saja seramah pagi berhias fajar bening dan embun bagai cermin: ”bengal, sungguhkah engkau tak mau pulang?”

15 Ramadan 1431, 25 Agustus 2010
Kurnia Effendi

Salam puisi cinta....
Baca Selengkapnya - Langkah Kelima Belas